Buku-buku Peraih Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016

Buku-buku Peraih Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016

Sudah trimester pertama tahun 2017 dan saatnya melihat progres yang sudah dilakukan selama tahun ini. Apakah sesuai dengan lini masa resolusi yang sudah dibuat? Adakah hal-hal yang masih belum dijalankan dan dibuat progresnya sama sekali? Teliti lagi kenapa hal-hal tersebut masih belum ada peningkatan. Cobalah untuk fokus terhadap salah satu harapan yang ingin dicapai terlebih dahulu lalu pecahkan menjadi hal-hal kecil yang mudah dilakukan. Intinya, buatlah progres tentang apa yang ingin dicapai pada tahun ini.

Bicara progres, berikut adalah progres buku-buku peraih Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 yang sudah diterbitkan oleh beberapa penerbit. Beberapa pengantar yang diberikan pada buku-buku berikut diambil dari Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 yang ditulis oleh para dewan juri dan dimaksudkan untuk memberikan sedikit penjelasan tentang hal menarik dan menonjol dari setiap naskah yang sekarang sudah menjadi buku-buku ini. Selamat menikmati!

1. Semua Ikan di Langit – Ziggy Z

Semua Ikan di Langit - Ziggy Z

Bayangkan Anda diajak ke luar angkasa oleh seseorang. Apa yang akan Anda lakukan? Lebih lanjut, apa yang akan Anda temukan di sana? Bagaimana jika Anda bertemu seorang bocah dan ikan-ikan? Juga kecoa dan anak-anaknya? Bila benar-benar terjadi, Anda pasti sudah dibuat pusing sendiri. Anda akan berpikir bahwa apa yang Anda alami tidak nyata dan Anda harus segera kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Tapi tidak dengan sebuah bus dalam kota.

Bisa jadi cuplikan di atas benar-benar terjadi. Semua itu dikurasikan oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie pada buku kebanggaan terbarunya, “Semua Ikan di Langit”. Naskah yang diterbitkan oleh Penerbit Grasindo ini menjadi pemenang utama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Menurut dewan juri Sayembara Novel DKJ 2016, naskahnya merupakan adukan yang sangat memikat antara cerita anak, cerita fantasi, fiksi ilmiah, dongeng, cerita berbingkai dan mitos penciptaan dunia. Dewan juri malah menyetarakan buku ini dengan novel klasik The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry dari segi narasi beraroma inosensnya. Pas jadi bacaan menarik yang tidak melulu soal cinta di bulan kasih sayang ini.

Baca “Semua Ikan di Langit” karya Ziggy Z

2. Tanah Surga Merah – Arafat Nur

Tanah Surga Merah - Arafat Nur

Konflik politik di Nanggroë Aceh Darussalam (NAD) bukan sekadar latar novel ini, tetapi juga inti cerita. Meski menjadikan gejolak politik lokal sebagai pokok cerita, naskah ini tidak terperangkap pada reportase jurnalistik. Ia menghadirkan seorang mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pulang ke kampungnya dan menemukan kenyataan-kenyataan yang tidak sepenuhnya bisa ia terima. Ada harapan yang tidak terpenuhi, tetapi juga ada keajaiban yang datang tanpa diminta. Disampaikan dengan gaya reportase yang tidak kering, novel ini dengan sabar membangun peristiwa demi peristiwa tentang tema-tema lokal yang sangat politis. Pengalaman romantis yang membayang samar di akhir naskah ini adalah sejumput harapan di tengah segala yang begitu mengekang.

Benturan antara banyak kepentingan dan karakter, dengan amunisi konflik politik lokal, bukan hanya membuat naskah ini sebagai naskah novel politis tetapi juga memberi kita humor yang baik. Pembaca bukan hanya bisa bersimpati terhadap penderitaan para korban, tetapi juga bisa ikut mengejek dan menertawakan mereka, sehimpunan manusia yang terperangkap dalam konflik yang seakan tak ada ujungnya. Meski dituturkan dalam bahasa Indonesia yang baik, beberapa bagian tak mampu membebaskan dirinya dari klise.

Baca “Tanah Surga Merah” karya Arafat Nur

3. Curriculum Vitae – Benny Arnas

Curriculum Vitae - Benny Arnas

Naskah novel ini disusun lewat serpihan-serpihan cerita pendek, seperti sehimpunan “cerita telapak tangan”, segugusan catatan harian. Pembaca diberi kebebasan mengaitkan bagian satu dengan bagian lainnya. Menuntaskan masing-masing cerita adalah upaya melekatkan daun-daun pada ranting sebuah pohon yang memperlihatkan wujud aslinya sedikit demi sedikit, meskipun tetap samar. Ia memberikan tawaran yang mencerahkan semesta yang semakin hari semakin terasa kusam. Ia menghadirkan citra dan nuansa tentang kedirian seseorang dan relasi antarmanusia yang tidak melulu dramatis. Mau tidak mau mengingatkan kami akan novel The Lover’s Dictionary karya David Levithan.

Di dalam naskah ini, pengarang bukan melulu bercerita tetapi mempersoalkan kembali posisi pengarang-pembaca-kritikus. Kalimat-kalimat dibuat cergas, tetapi bebebapa bagian masih tampak mendayu-dayu, dengan kegalauan yang terus membayang. Pengarang berpretensi merumuskan sesuatu, semacam kehendak berfilsafat mengenai hal-hal remeh-temeh. Ia berupaya memberi kita tuturan yang puitis dan dramatis tetapi dengan perbendaharaan kata yang lebih terbatas.

Baca “Curriculum Vitae” karya Benny Arnas

4. Lengking Burung Kasuari – Nunuk Y. Kusmiana

Lengking Burung Kasuari - Nunuk Y. Kusmiana

Naskah ini memandang tanpa tendensi kompleksitas sosio-kultural masyarakat Papua melalui sepasang mata bocah. Sesekali si pemandang terasa melampaui usianya, namun si aku telah membuat pengakuan terkait anomali tersebut bahkan sejak halaman pertama. Hal-hal yang semestinya meremukkan menjelma renungan yang tidak sekadar mengisahkan kembali sekeping tanah dengan sejarah yang hampir tidak terkatakan. Sepanjang cerita adalah serupa penundaan panjang dengan akhir yang melegakan dalam keserbasederhanaannya.

Lengking Burung Kasuari mencoba mengungkapkan pengalaman anak-anak tentara Jawa yang bertugas di Papua pada masa Orde Baru. Suasana teror yang selama ini bersifat sangat politis, kini diambil alih oleh anak-anak dalam bentuk imajinasi akan kehadiran “tukang potong kep”. Sepanjang cerita ketakukan akan “tukang potong kep” terus membayangi meski kita tahu itu sebenarnya hanyalah ketakutan anak-anak yang selalu dibesar-besarkan, tetapi bukan tidak mungkin akan datang sosok itu suatu kali. Dengan tuturan yang sangat lancar dan alur yang maju terus, pengarang berhasil menjaga suspens, dan semua itu disampaikan dalam bahasa Indonesia berkualitas baik.

Baca “Lengking Burung Kasuari” karya Nunuk Y. Kusmiana

Baca kesemua bukunya serta lebih dari 13.000 buku di SCOOP Premium

Sumber Gambar: pexels.com