Carisa dan Kiana: Tak Hanya Kisah Romansa Remaja. Simak Wawancara Eksklusif Bersama Penulis!

Carisa dan Kiana: Tak Hanya Kisah Romansa Remaja. Simak Wawancara Eksklusif Bersama Penulis!

Novel remaja sebenarnya tidak hanya digandrungi oleh para remaja saja. Banyak orang dewasa yang juga menikmati cerita-cerita konyol cewek dan cowok kala SMA. Kebanyakan dari pembaca memilih novel remaja karena mereka ingin kembali mengenang kembali masa sekolah terutama SMA mereka. Melalui novel remaja, pembaca diajak mengikuti kisah dengan permasalahan-permasalah ringan yang cenderung konyol.

Baru-baru ini, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan novel TeenLit terbaru berjudul “Carisa dan Kiana” dan SCOOP berkesempatan mewawancarai penulisnya, Nisa Rahmah. Simak wawancara eksklusif bersama Nisa berikut.

Halo Nisa! Apa kabar? Selamat atas “Carisa dan Kiana” yang baru terbit! Bagaimana perasaan ketika menimang buku pertama ini?

Halo SCOOP. Kabar baik, nih. Terima kasih ucapannya. Perasaan saya? Masih nggak menyangka bakal pegang buku dengan nama sendiri di sampulnya. Deg-degan pastinya, tapi tentu saja senang.

Apa yang membuat Nisa tercetus ide untuk menulis cerita remaja? Apakah karena memang suka membaca novel-novel remaja?

Suka sekali. Dulu waktu masih SMA, saya senang membaca novel remaja hasil pinjaman dari teman sebangku saya. Begitu beranjak dari masa remaja, keinginan untuk menyenangi baca novel-novel remaja masih ada. Tapi, beberapa kali membacanya, saya belum menemukan yang “klik” di hati. Lalu terpikir kenapa tidak membuatnya sendiri? Akhirnya, memberanikan untuk menulisnya.

SCOOP penasaran dengan nama tokoh di dalam buku yang menjadi judul buku. Bagaimana pada akhirnya Nisa memilih nama Carisa dan Kiana sebagai tokoh utama dalam buku ini?

Nah, saya lupa bagaimana ceritanya bisa ketemu nama Carisa dan Kiana ini. Sepertinya langsung terpikir begitu saja dan klop. Belakangan saya ingat kalau ternyata Carisa itu nama keponakannya teman saya. Barangkali nanti saya akan menemukan nama-nama lain yang tidak terduga sebagai tokoh cerita saya.

Selain romansa remaja, “Carisa dan Kiana” juga berkisah tentang keluarga. Malah, sepertinya, tema keluarga ini menjadi yang paling krusial dalam cerita. SCOOP ingin tahu mengapa?

Saya selalu suka dengan kisah ayah dan anak perempuannya. Nggak pernah nggak terharu dengan cerita-cerita bertema itu. Jadi, saya ingin mengangkatnya di sini, tapi dalam bingkai kisah yang berbeda. Satu hal yang saya ingin ceritakan kepada pembaca adalah, bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Namun, pada akhirnya, keluarga jugalah yang menjadi tempat pulang.

Saya juga kepingin memberikan kesan bahwa masa remaja tidak hanya identik dengan kisah cintanya saja yang manis-asam-asin-pahit. Tapi, ada proses pencarian jati diri di sana. Di mana dalam proses pencarian itu, akan melibatkan orang-orang terkasih di hidup kita.

Ada hal menarik lainnya dalam “Carisa dan Kiana” yaitu musikalisasi puisi yang penampilannya dinarasikan secara keseluruhan pada sebuah bab. Bagaimana hingga memutuskan untuk memasukkan unsur musikalisasi puisi di dalam kisah dua cewek ini?

Saya beberapa kali sempat nonton musikalisasi puisi dan itu menurut saya keren banget. Apalagi, waktu SMP dan SMA saya pernah gabung di komunitas teater. Jadinya cukup mengerti bagaimana suasana di balik panggung maupun apa yang terjadi di sana. Saya kepikiran tentang momen berkesan yang ingin saya masukkan di novel ini. Lalu, saja terpikir untuk memasukkan unsur musikalisasi puisi di sana. Saya suka puisi, saya suka puisinya Sapardi Djoko Damono. Akhirnya, saya pilih mengambil puisi beliau. Sekaligus memopulerkan puisi-puisi beliau kepada pembaca remaja, hehehe. Dan juga, memberitahukan bahwa puisi Sapardi yang keren tidak hanya “Hujan Bulan Juni” saja.

Tapi yang jadi tantangan adalah bagaimana menarasikan unsur musik dan suasana yang ingin saya bangun dalam pementasan itu. Semoga suasananya bisa dirasakan oleh pembaca.

Mungkin karena saya memberikan premis yang sedikit beda di novel ini. Meskipun ini adalah novel remaja, tapi unsur keluarga yang kuat dibalut dengan atmosfer masa SMA dengan nuansa persaingan dan kisah romansa mereka, memberikan kesan yang berbeda dengan novel remaja lainnya.

Apakah menulis adalah passion Nisa?

Sejak SMA saya senang menulis, tapi hanya untuk dikonsumsi pribadi, alias nggak berani menunjukkan tulisan saya pada siapa pun. Lima tahun belakangan saya mulai rajin menulis, tapi untuk senang-senang saja. Dua tahun terakhir mulai menyenangi menulis ulasan buku. Baru setahun belakangan saya keluar dari zona nyaman untuk menulis yang serius (dalam hal ini menulis novel). Jadi, bisa dibilang menulis memang merupakan passion saya dari dulu.

SCOOP juga ingin tahu nih, apa rutinitas Nisa sehari-hari?

Sehari-hari rutinitas saya mengajar. Selain itu, saya senang sekali membaca buku dan menulis ulasan buku di blog. Jadi, lumayan seimbang aktivitasnya karena nggak melulu di depan layar laptop.

Apa trik dari Nisa sehingga bisa membagi waktu rutinitas keseharian, menulis, dan membaca buku?

Karena rutinitas mengajar bisa dibilang cukup memiliki banyak waktu luang, saya mengisinya dengan membaca buku. Ke mana pun selalu ada buku yang saya bawa. Lagi pula, dalam proses menulis saya lebih senang melakukan riset dengan membaca. Jadi, membaca merupakan aktivitas menyenangkan yang selalu saya lakukan.

Kalau menulis sendiri, saya tidak memaksakan diri untuk harus menulis pada waktu tertentu. Tapi, saya tetap mempunyai target dan konsisten terhadap target itu. Biasanya kalau sudah ada ide mengalir, menulis bisa menyebabkan lupa waktu. Dan kalau sudah begini, saya dengan senang hati merelakan jatah waktu membaca untuk dialihkan ke menulis. Begitu jenuh menulis, diselinginya dengan membaca, atau jalan-jalan. Tapi tetap bawa buku atau tab biar bisa membaca.

Terakhir, apakah Nisa suka membaca buku digital?

Tentu saja suka sekali! Saya berkenalan dengan buku digital belum lama, dan langsung suka. Saya menikmati kemudahan yang diberikan saat membaca buku digital. Untuk kebutuhan riset, saya lebih memilih membaca buku digital karena bukunya bisa dengan mudah dicari. Saya suka baca SCOOP apalagi dengan fitur premium-nya (pssst, saya punya tulisan tentang itu di sini). Bahkan, ini sudah masuk bulan kelima berlangganan.

Baca “Carisa dan Kiana” karya Nisa Rahmah

Baca novel-novel remaja berlini TeenLit