Emakku bukan Kartini: Perjuangan Kartini yang Tak Bisa Baca Tulis

Emakku bukan Kartini: Perjuangan Kartini yang Tak Bisa Baca Tulis

Menulis. Itulah satu hal yang menjadi penggebrak Raden Ajeng Kartini dalam memajukan pendidikan di sekitar. Masa kecilnya yang harus dipingit setelah bersekolah hanya sampai usia 12 tahun membuatnya tak gentar untuk belajar sendiri dan menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Dari surat-surat yang ditulisnya, ia kemudian merangkainya menjadi sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku yang memiliki judul asli “Door Duisternis Tot Licht” itu terbit pertama kali pada 1911 oleh JH Abendanon dan berisikan kumpulan surat Kartini kapada sahabat-sahabat penanya.

Surat-surat Kartini itu berisi pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial perempuan pribumi yang sebagian besar berisi protesnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Keinginannya sebenarnya sederhana: agar para wanita dapat bersekolah atau setidaknya menuntut ilmu dan belajar. Dan pesan utama yang dibawakannya hingga saat ini adalah tentang perjuangan emansipasi wanita. Tidak seperti dirinya yang sudah menikah pada usia 24 tahun. Ia bahkan menjadi istri keempat karena sang suami, bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, sudah memiliki tiga istri.

Emakku bukan Kartini

Kisah R.A. Kartini memberikan gambaran kepada siapa saja untuk menjadikan wanita yang hadir di sekitarnya sebagai inspirasi. Termasuk bagi Hasanudin Abdurakhman. Ibunya menjadi inspirasinya dalam buku terbarunya berjudul “Emakku bukan Kartini” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Hasan, lelaki itu biasa disebut, adalah seorang Doktor di bidang Fisika lulusan Tohoku University. Ia menceritakan kisahnya yang menjadi sukses karena wanita yang hebat di belakangnya; Emak.

Masa kecil Emak dilewatinya dengan begitu getir. Suatu hari, kampungnya kedatangan ustaz dari desa lain. Sebuah pengajian kecil akan dilangsungkan. Tentu Emak yang waktu masih belia ingin ikut serta belajar. Sayang beribu sayang, ayahnya menghardiknya dan bilang bahwa ia bukan anak perempuan yang patut untuk menjadi cendekia. Emak hanya bisa menangis meratapi ketakberdayaannya. Namun, Emak tak mengeluh juga tak melawan. Ia hanya menunggu datangnya kebebasan.

Hingga tibalah saat ia menikah dengan ayahnya Hasan yang seorang buruh tani. Emak berkeras agar anak-anaknya tak melalui masa kecil seperti dirinya. Bahkan, ketika abang tertua Hasan memasuki usia sekolah yang di kampungnya belum ada sekolah, Emak tak menyerah. Ia bersama ayahnya Hasan mengayuh sampan selama tiga hari ke kampung pamannya Hasan yang seorang lurah. Di sanalah abang tertua Hasan dititipkan untuk bersekolah.

Kegigihan Emak untuk mengubah nasib dan tak menyerah pada kemiskinan yang membelit keluarganya menjadi poin penting bagi Hasan untuk menjadikan emaknya inspirasi hidup. Cerita-cerita hidup keluarganya kemudian dibukukan dalam “Emakku bukan Kartini”.

Emakku bukan Kartini: Perjuangan Kartini yang Tak Bisa Baca Tulis

Desty, dalam ulasannya tentang buku ini, menyatakan bahwa yang mengagumkan dari sosok Emak adalah usahanya membebaskan anak-anaknya dari kebodohan dan kemiskinan. Selain membantu Ayah berkebun, Emak juga berdagang. Emak pun menjadi perias pengantin. Semua dimulai dari nol, dari hanya coba-coba hingga akhirnya mendapat untung. Emak juga manajer pendidikan yang ulung. Dia mengatur pendidikan setiap anaknya, hingga berhasil. Ketika anak-anaknya semakin banyak yang bersekolah di kota, Emak membangun rumah untuk mereka.

Menyandingkan Emak dengan sosok Kartini bagaikan ironi. Emak bukan bangswan. Emak buta huruf. Emak tidak menulis surat untuk kawannya. Tapi Emak mengantar anak-anaknya menuju kesuksesan. Catatan hidup anaknya menjadi bukti nyata. Sosok Emak mewakili banyak sekali orangtua di Indonesia yang berjuang habis-habisan untuk pendidikan anak-anaknya. Tentu ada di antara kita yang punya “Emak-Emak” yang mungkin menempuh cara yang berbeda. Tanpa menafikan dan mengabaikan perjuangan Ibu Kartini, Emak adalah sosok Kartini yang sesungguhnya.

Emak memberikan penerangan bagi kehidupan keluarganya dan melupakan masa lalunya yang kelam. Bagai kutipan yang dibawakan R.A. Kartini, “Habis gelap, terbitlah terang”. Selamat Hari Kartini untuk wanita-wanita nan menginspirasi.

Baca juga ulasan lengkap Desty untuk buku “Emakku bukan Kartini” karya Hasanudin Abdurakhman di sini.

Baca “Emakku bukan Kartini” karya Hasanudin Abdurakhman

Baca buku ini dan lebih dari 13.000 judul lainnya di SCOOP Premium

(Referensi: Kompas.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *