Nyalakan Kembang Apimu! Wawancara Eksklusif Bersama Penulis “Kota Ini Kembang Api”

Nyalakan Kembang Apimu!

Beberapa waktu lalu SCOOP menghadiri peluncuran buku “Kota Ini Kembang Api” karya Gratiagusti Chananya Rompas bertajuk “Nyalakan Kembang Apimu”. Selain sang penyair atau yang biasa disapa Anya ini, hadir pula penyair sekaligus kerabat dekat Anya yaitu Norman Erikson Pasaribu, Kurnia Effendi, Aurelia Tiara, dan Cyntha Hariadi. Hadir pula Eka Kurniawan dan ilustrator buku ini, Adiputra Singgih. SCOOP juga berkesempatan melakukan wawancara eksklusif bersama Anya. Simak perbincangan seru kami berikut.

Halo Anya. Apa kabar? SCOOP mengucapkan selamat atas peluncuran buku “Kota Ini Kembang Api”.

Kabar baik sekali, terima kasih. Terima kasih ya sudah datang ke launching buku kumpulan puisiku ini.

SCOOP dengar, buku ini sebelumnya sempat dicetak secara terbatas. Bisa diceritakan sampai akhirnya Anya memutuskan untuk menerbitkan buku ini secara massal. Apa motivasinya?

Dulu saya dan beberapa teman berniat membuka sebuah penerbitan indie. Karya saya dan Mikael Johani, yang sekarang menjadi suami saya, dipilih untuk dijadikan kelinci percobaan. Waktu itu, tahun 2008, buku kami diluncurkan di Ubud Writers & Readers Festival. Well, life happens, dan kami dikaruniai seorang anak. Walaupun banyak kawan yang “menagih” buku kami untuk dicetak lagi, rasanya terlalu rumit bagi kami untuk melanjutkan usaha kami. Ini sebenarnya pilihan yang sulit bagi saya. Saya sadar sepenuhnya saya dan suami harus memusatkan perhatian kepada anak kami.

Tetapi, setelah beberapa tahun saya mulai resah. Bahkan hampir bisa dibilang saya mengalami semacam ganjalan mental karena saya merasa ada pekerjaan yang belum selesai. Akhirnya, setelah 8 tahun berlalu dan anak kami pun semakin mandiri, saya bertekad untuk menerbitkan lagi “Kota Ini Kembang Api” apa pun caranya. Selain itu, anak sayalah juga yang menginspirasi saya. Dia begitu tekun untuk mencapai apa yang ia inginkan, secara akademis dan juga dalam seni tari. Masa sih ibunya kalah. Hehehe. Ternyata jalan yang terbuka bagi saya adalah pertemuan dengan Mirna Yulistianti, editor senior Gramedia Pustaka Utama.

“Kota Ini Kembang Api” adalah satu dari puluhan puisi yang terdapat pada buku ini. Mengapa memilih judul tersebut untuk mengangkat keseluruhan isi buku?

Saya pikir kembang api mewakili keinginan saya untuk mengeksplorasi gelap dan terang, tidak hanya di kota tetapi juga di kepala-kepala penduduknya. Puisi-puisi di dalam buku ini hampir seluruhnya ditulis saat saya masih muda, di mana saya masih bergelut dengan perasaan-perasaan yang saya tak mengerti. Saya tak tahu bagaimana harus menghadapi mereka, apalagi menaklukkannya.

Ini terjadi di kota-kota yang pernah saya tinggali atau kunjungi, walaupun kebanyakan di Jakarta. Kota-kota ini bukan sekadar latar tapi juga alat saya untuk menggambarkan “not all that glitters is gold”. Saya jadi ingat bahan candaan saya dengan suami. Ia bilang, “Tenang saja, habis gelap terbitlah terang.” Dan saya balas, ”Ya, tapi habis itu gelap datang lagi.”

SCOOP dengar saat wawancara, puisi-puisi yang terdapat pada buku ini dikumpulkan sejak masa kuliah. Bagaimana hingga Anya bisa menyukai puisi?

Saya sebenarnya pertama kali mengalami semacam pencerahan kalau saya suka menulis puisi ketika masih duduk di bangku SMA. Guru Bahasa Indonesia menyuruh kami untuk keluar ke halaman dan menulis puisi tentang pohon Ki Hujan yang ada di situ. Saya mengerjakannya dengan perasaan gembira yang saya tak tahu dari mana datangnya. Dan ternyata puisi saya jadi yang terbaik di kelas.

Lucunya, saya baru giat menulis puisi beberapa tahun kemudian ketika saya sudah kuliah bersama teman-teman di Komunitas BungaMatahari, atau biasa disebut BuMa. Lewat BuMa saya melihat bahwa ternyata banyak sekali orang yang sebenarnya mempunyai semangat berpuisi. Dan bersama BuMa, saya dan kawan-kawan juga mendapatkan banyak pengalaman dan kesempatan untuk menyelenggarakan acara-acara puisi. Misalnya, waktu kami membuat acara puisi dan graffiti di Stasiun Gambir dan flash mob pembacaan puisi di blitz Grand Indonesia bersama Pusat Kebudayaan Perancis.

Wah, SCOOP baru tahu tentang Komunitas BungaMatahari. Apakah Komunitas BungaMatahari masih eksis sampai sekarang?

Milisnya masih ada. Masih ada yang tahu nggak ya arti milis? Hahaha. Tapi BuMa masih bisa ditemukan di grup Facebook BungaMatahari dan Twitter @PuisiBuMa. Tidak perlu malu-malu untuk berbagi puisi di kedua kanal tersebut. Selain itu kami juga sedang perlahan-lahan membangun arsip kegiatan kami di situs komunitasbuma.com. Kami pun masih mengadakan KebunKata, sebuah acara pembacaan puisi di mana siapa saja boleh baca. Tetapi karena kebanyakan anggota aktifnya sudah berkeluarga, kami harus lebih cermat memilih waktu.

“Nyalakan Kembang Apimu” sepertinya sudah menjadi kampanye yang menyenangkan. Apa yang mungkin bisa disarikan dari tagline tersebut?

Sederhana saja sebenarnya, bahkan mungkin klise. Editor saya bertanya kepada saya judul apa yang saya inginkan untuk acara peluncuran. Saya pilih “Nyalakan Kembang Apimu” karena saya pikir kebanyakan orang masih ingin menyalakan sesuatu—impian, kesuksesan, kebahagiaan, dst.—di dalam hidupnya. Walaupun itu semua pada akhirnya fana, tapi setidaknya kita sudah mencobanya. Walaupun gagal, setidaknya kita pernah mecoba walaupun sekejap saja.

Nyalakan Kembang Apimu!

Dalam buku “Kota Ini Kembang Api” juga terdapat ilustrasi Adiputra Singgih. Mengapa sampai dapat pikiran untuk menyertakan ilustrasi pada “Kota Ini Kembang Api”?

Saya sering memperlakukan puisi saya sebagai semacam terapi untuk mengerti perasaan maupun pemikiran saya tentang dunia di sekitar saya. Bahkan saya juga memakainya untuk mengenali bagaimana dunia memperlakukan saya. Jadi seringkali saya baru mengerti apa yang saya alami dan rasakan setelah saya menuangkannya ke dalam bentuk puisi. Sebuah bentuk yang bisa saya baca dan baca lagi. Oleh karena itu, saya juga tertarik untuk melihat apa yang terjadi jika puisi saya diterjemahkan ke dalam bentuk seni lain, yaitu gambar. Saya bersyukur ternyata hasil-hasil karya Adiputra Singgih tidak hanya ‘mempermanis’ tetapi juga berdialog dengan puisi-puisi saya.

Sebagai seorang peyair, apa yang Anya harapkan dengan perkembangan literasi sastra puisi di Indonesia?

Saya ingin para sastrawan atau seorang yang ingin menjadi sastrawan melihat bahwa puisi adalah sebuah tradisi, sebuah ilmu dengan sejarah yang panjang. Ini penting sekali karena kalau tidak, siapa pun bisa membuat klaim kalau sebuah karya yang ia tulis adalah sebuah genre atau format maupun gaya baru. Ini artinya orang tersebut belum paham ada penyair atau penulis lain di luar dirinya. Saya juga memperhatikan beberapa penulis saat ini belum paham benar apa yang pernah dikatakan T. S. Eliot: “Good writers borrow, great writers steal.” Saya jadi berpikir, mungkin kita masih harus lebih banyak lagi belajar membaca, bukan asal membaca. Dan tentunya lebih kritis dalam mengkonsumsi bentuk kesenian apa pun.

Siapa penulis favorit Anya?

Banyak sih. Waktu membuat “Kota Ini Kembang Api” saya tertarik dengan E. E. Cummings. Saya juga suka Edgar Allan Poe, Anne Sexton, Angela Carter, Toeti Heraty, Subagyo Sastrowardoyo. Tapi yang pasti saya juga terinspirasi dengan kawan-kawan saya di Komunitas BungaMatahari.

Pertanyaan terakhir, apakah Anya suka baca buku digital?

Saya lebih suka baca majalah digital sebenarnya. Menurut saya, selain koleksi majalah saya terlihat lebih rapi dalam arti tidak tersebar di segala penjuru rumah, saya juga mudah mencari edisi yang ingin saya baca ulang. Tetapi saya juga punya beberapa buku digital untuk siap-siap kalau tiba-tiba kota ini mati lampu. Eh, tapi dengan catatan device-nya belum low batt ya. Hihihi.

Baca Buku “Kota Ini Kembang Api” karya Gratiagusti Chananya Rompas