Orang-orang yang Dipaksa Kalah: Penguasa dan Aparat Keamanan Milik Siapa?

Jual Buku Orang-orang Yang Dipaksa Kalah: Penguasa Dan Aparat Keamanan Milik Siapa? oleh Bungaran Antonius Simanjutak


Oleh Bungaran Antonius Simanjutak

Eceran
Rp 57.000
Tambahkan
** Publikasi digital hanya dapat dibaca dari e-reader SCOOP
Deskripsi
Detail
Ulasan Anggota
GoodReads
Tanggal rilis: 26 February 2017.

"Ironisnya, semua pengorbanan masyarakat ini tak jua membuat pemerintah menyadarkan Indorayon, yang sekarang bernama Toba Pulp Lestari (TP), untuk menghargai masyarakat lokal, dan pemerintah menghentikan operasi  pabrik. Sebaliknya, protes masyarakat dinilai sebagai tindakan kriminal, anarkhi, melawan pemerintah dan pembangunan, dan dihadapi secara represif dengan kekuatan birokrasi, polisi dan militer. Salah satu kasus paling mutakhir ialah penebangan pohon kemenyan milik masyarakat Pollung. Humbang Hasundutan, yang mendapat protes keras petani kemenyan. Ini menunjukkan bahwa karakter perusahaan  itu sama sekali belum berubah" (Arifin Telaumbanua) "IIU/TPL merupakan wujud ideologi Neo liberalisme-kapitalisme. Kapitalisme adalah keserakahan. Selama pemerintah berkiblat ke Neo liberalisme dan kapitalisme sejauh itu juga tidak ada keperpihakan pada kesejahteraan rakyat. Kapital tidak mengenal kata cukup. Kapital bisa membayar polisi, dan pemerintah..." Setelah Kapolres, pergi kami diinterogasi oleh seorang polisi Juru Periksa (Juper). Juper itu membentak dan mencaci maki saya. 'Mentang-mentang sudah ngomong dengan Kapolres, kau pikir kau sudah hebat; karena kau mahasiswa sok hebat; gara-gara kalian saya tidak istirahat; jangan kau tengok-tengok. di mana kau taruh matamu, 'itulah antara lain kata-kata yang dilontarkan oleh Juper itu. Selanjutnya saat pemeriksaan, Juper berulang kali menanyakan kenapa saya diperiksa? Saya tetap katakan 'tidak tahu'. Akhirnya Juper itu mengatakan 'karena melanggar keterlibatan umum'," (Saurlian Siagian) "Meraka pernah melemparkan ikan mati ber ton-ton ke truk Indorayan karena merasa kesal. Masyarakat menunjukkan kepada pihak Indorayan bahwa limbahnya telah menyebabkan kematian ikan mas yang tidak sedikit jumlahnya. Tetapi, Indorayon menutup mata dan telinga, tidak peduli pada keluhan masyarakat, "ujar Ompu Tulus dengan wajah sedih dan suara bergetar (Pindo br. Sitorus) SAYA beberapa kali dipukuli aparat saat aksi. tetapi itu tidak membuat saya kapok. Sebaliknya, itulah yang mendorong saya untuk mau mendampingi petani yang ada di Prosea, yang saya lihat punya nasib yang sama dengan mahasiswa. Mereka menghadapi kekerasan Militer. Adanya kesamaan visi pribadi dan lembaga membuat saya lebih percaya diri dalam melakukan pendampingan terhadap masyarakat korban Indorayon yang menolak TPL. Kelompok korban pembangunan itu harus dibela haknya" (Surung Gunawan Simanjuntak) "Dalam sebuah dialog interaktif yang diprakarsai Bakumsu di Medan, Maret 2003, Pastor Silaen mengawali gagasannya dari nas Alkitab Perjanjian Lama; 'Berbasuhlah dan bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan jahat dari depan mataKu, Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan orang kejam, belalah hak-hak anak-anak yatim ... mari kita berperkara firman Tuhan, sekalipun dosamu merah seperti sirih, akan putih seperti kapur'." (Pastor Silaen)

Bahasa : Indonesian
Negara : Indonesia
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Penulis : Bungaran Antonius Simanjutak
Jumlah halaman : 247
Ulasan Anggota
Belum ada ulasan untuk edisi ini.
© 2010 - 2017 All Rights Reserved. SCOOP is a registered trademark of Apps Foundry.
Memuat...
Memuat...